"Selamat Datang di Cindi's blog"

.

RSS

Lagu terakhir untuk Ita


Sudah hampir dua jam Ita mondar-mandir mengelilingi kamarnya, gadis ini terlihat sangat gelisah. Berulang kali dia melirik hp kecil yang ada di tempat tidurnya, tapi tak ada satu pun pesan masuk yang tampak di hp itu.
“Kamu kemana, sih? Kok sms ku nggak di balas-balas” gerutu Ita sambil memencet nomer telepon dengan cepat.
Sebelum Ita sempat menelpon, sebuah SMS masuk dan di layar ponsel itu tertulis My Prince. Secepat kilat dia membuka SMS itu lalu membacanya dengan tidak sabar. Ternyata orang yang selama ini dia tunggu itu baru saja selesai bertanding dalam turnamen voli. Setelah membalas SMS itu, Ita memejamkan matanya untuk tidur karena malam telah larut.
Keesokan harinya...
Seperti biasa, Ita selalu mengirimkan ucapan selamat pagi pada kekasihnya sebelum dia berangkat kuliah. Namun, hatinya kembali tak tenang ketika sang kekasih belum juga membalas SMS-nya hingga sore hari. Berkali-kali dia mengirimkan SMS, hingga akhirnya balasan yang ditunggu datang.

-aku udah solat dan makan kok-

Ita langsung membalas SMS itu, tapi setelah beberapa kali SMS-an, dia merasa ada yang aneh dengan pesan dari kekasihnya itu. Hingga akhirnya dia tahu kalau ternyata yang membalas SMS itu bukanlah Ivan pacarnya, tapi temannya. Hal itu membuat Ita sangat marah dan tidak membalas SMS itu lagi. Dia berharap pacarnya akan menghubunginya dan meminta maaf langsung padanya. Tapi pertengkaran itu malah berlanjut hingga malam hari. Meskipun Ivan telah meminta maaf, tapi Ita masih juga kesal dengan sikap Ivan yang tidak mau membalas SMS-nya. Dan malam itu pun berakhir tanpa ada SMS dari keduanya. Pertengkaran kedua pasangan itu berakhir dengan kata putus yang dikirimkan lewat SMS oleh Ivan. Hal itu membuat Ita yang sejak awal sudah sedih akhirnya menangis di depan sahabat-sahabatnya. Dia tidak menyangka pacar yang selama ini sangat dicintainya ternyata tega memutuskan hubungan mereka begitu saja. Namun, setelah mendengar alasan Ivan yang sudah merasa tidak nyaman lagi dengan dia, Ita akhirnya menerima keputusan itu dengan hati yang hancur.
Malam harinya, Ita yang masih stres dengan kenyataan yang menyakitkan itu mendadak jatuh sakit. Tubuhnya demam dan kadang dia menggigil. Dia berharap Ivan akan menghubunginya dan bilang kalau mereka tidak jadi putus. Tapi harapan itu, hanya menjadi harapan semata, karena tak satu pun SMS dari Ivan yang masuk ke hp-nya.
* * *
Sudah hampir seminggu Ita sakit, hingga akhirnya dia harus di rawat di rumah sakit. Tapi kondisinya belum juga membaik. Maag yang selama ini di deritanya ternyata sudah sangat parah hingga menimbulkan pendarahan. Dokter pun mengatakan kalau salah satu faktor yang menyebabkan penyakit Ita semakin parah adalah stres yang dialaminya hingga membuat kondisi tubuhnya menurun. Gati, sahabat Ita yang paling mengerti keadaan Ita hanya bisa menatap iba tubuh sahabatnya yang sekarang terkulai lemah diatas tempat tidur. Wajahnya pucat dan tubuhnya semakin kurus. Gati sangat mengerti perasaan Ita yang merasa sangat kehilangan Ivan kekasihnya. Kadang samar-samar dia mendengar Ita menyebut nama Ivan dalam tidurnya dan hal itu membuat Gati menangis, tak sanggup melihat penderitaan yang di rasakan oleh sahabatnya itu.
“Ta, gimana keadaan kamu sekarang?” tanya Gati ketika sahabatnya baru saja bangun.
“Alhamdulillah udah mendingan, udahlah nggak usah cemas gitu” jawab Ita, wajahnya terlihat pucat.
“Kamu masih mikirin Ivan, ya?”
“Maksud kamu?”
“Dari kemarin aku dengar kamu memanggil nama Ivan berkali-kali saat kamu lagi tidur. Kamu kepikiran dia lagi?” tanya Gati cemas.
“Iya, aku kangen sama dia. Apa dia menghubungiku?” jawab Ita.
“Setahu aku, sih, belum ada SMS ataupun telepon dari dia. Kenapa?”
“Enggak apa-apa, cuma mau tahu aja dia peduli atau nggak” jawabnya, wajahnya terlihat sedih.
“Apa perlu aku telepon dia untuk kasih tahu keadaan kamu?”
“Enggak usah, aku nggak mau dikasihani sama dia.”
Gati hanya bisa diam mendengar jawaban sahabatnya itu. Rasa kagum dan sedih bercampur di hatinya. Kagum akan ketegaran sahabatnya itu, tapi sedih melihat penderitaan yang harus dialami Ita. Gati tahu di saat sakit seperti itu, pasti Ita ingin Ivan ada bersamanya, dan nggak meninggalkannya seperti ini. Hampir tiga minggu Ita di rawat di rumah sakit dan selama itu juga Gati selalu memperhatikan perkembangan kesehatan sahabatnya itu. Setiap kali Ita merasa sakit di tubuhnya ataupun tubuhnya demam, Ita selalu mendengarkan sebuah lagu ciptaan Ivan, mantan kekasihnya. Dan seperti mukjizat, keadaan Ita perlahan membaik setelah mendengar lagu itu. Gati akhirnya mengerti kerinduan Ita pada Ivan sangatlah besar hingga menyiksa seluruh tubuhnya bukan hanya hatinya. Hingga suatu hari tanpa sepengetahuan Ita, Gati menelpon Ivan yang ada di luar kota. Dia menceritakan keadaan Ita pada cowok itu, dan dia juga meminta Ivan untuk datang menemui Ita. Tapi, Ivan masih belum juga mau menemui Ita.
“Aku mohon sama kamu, Ita butuh kamu. Tolong datanglah ke Jakarta dan temui Ita walaupun hanya sebentar” ucap Gati.
“Aku belum bisa menemui dia, lagipula kehadiranku malah bisa membuat dia semakin sakit” jawab Ivan.
“Satu kali saja, tolong temui dia. Mungkin dengan bertemu denganmu dia bisa sembuh. Atau kamu akan menyesal” paksa Gati.
“Apa maksud kamu? Memang penyakitnya itu parah?”
“Datang dan lihatlah sendiri keadaan Ita sekarang. Sebelum kamu menyesal untuk selamanya” ucap Gati sebelum mengakhiri teleponnya.
* * *
Beberapa hari setelah telepon itu, Ivan mengabari Gati kalau dia akan ke Jakarta untuk menemui Ita. Gati yang mendapat kabar menggembirakan itu langsung menemui Ita. Tapi sayangnya Ita sedang tidur saat itu. Gati hanya bisa menunggu sampai Ivan tiba di Jakarta dua hari lagi. Hari itu akhirnya tiba juga. Ivan, orang yang selama ini di tunggu kedatangannya oleh Ita dan Gati akhirnya datang. Dia meminta Gati mengantarkannya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Ivan terdiam melihat keadaan gadis yang ada di kamar rawat itu. Sosok yang selama ini tidak pernah di jumpainya, kini dilihatnya dengan kondisi yang memprihatinkan. Selang infus terpasang di tangannya, matanya terpejam, tapi di kedua telinganya terpasang headset agar Ita bisa selalu mendengarkan lagu musik yang bisa menenangkan.
“Dia hanya sedang tidur. Tunggu saja, sebentar lagi juga dia bangun” ucap Gati yang berdiri di belakang Ivan.
“Sudah berapa lama dia seperti ini?” tanya Ivan, dia mulai berjalan mendekati tempat tidur Ita.
“Hampir satu bulan dia terbaring di tempat tidur itu. Sekarang coba kau dengar lagu yang sedang di dengarkan Ita” ucap Gati sambil melepas satu headset itu dan memberikannya pada Ivan.
Ivan terkejut ketika mendengar lagu itu, lagu yang pernah dia ciptakan untuk Ita dulu. Dia tidak menyangka gadis itu masih menyimpan rekaman lagu itu. Kedua matanya menatap wajah Ita yang tertidur.
“Itulah yang membuat Ita bertahan selama ini. Itu yang dia lakukan bila sedang merindukanmu. Suaramu yang sangat dia rindu” ucap Gati.
Ivan yang masih merasa terkejut perlahan memegang tangan Ita, kedua matanya tak lepas dari wajah Ita. Terlihat masih ada kasih sayang yang dalam dari tatapan itu. Tiba-tiba tangan yang di pegang Ivan bergerak, Ita bangun dari tidurnya. Dan dia terkejut ketika ada seorang cowok duduk di sampinya sambil memegang tangannya.
“Tenang, Ta. Dia Ivan, orang yang selama ini kamu rindu” ucap Gati.
“Ivan? Kenapa bisa ada disini?” tanya Ita yang masih terkejut.
“Maaf, ya. Aku yang menelpon dia dan meminta dia untuk datang menjengukmu. Karena aku nggak tega melihat kamu seperti ini terus.”
“Kenapa kamu bisa sampai kayak gini? Kenapa kamu nggak menjaga kesehatanmu?” tanya Ivan yang masih tetap menatap wajah Ita.
“Itu bukan urusanmu” sahut Ita sambil melepaskan genggaman Ivan.
“Waktu itu kamu kan udah janji, bisa terima keputusanku untuk mengakhiri hubungan kita, dan berjanji akan baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang kamu kayak gini?”
Ita hanya diam dan memalingkan wajahnya dari Ivan. Sementara Ivan masih terus berbicara pada Ita. Gati yang melihat itu hanya berharap keadaan Ita akan membaik setelah bertemu Ivan. Dan ternyata benar, setelah berdebat cukup lama akhirnya Ita dan Ivan mulai akrab kembali. Wajah Ita yang tadinya pucat juga mulai berubah cerah. Pertemuan antara Ita dan Ivan terus berlangsung selama seminggu, dan selama itu keadaan Ita berangsur membaik. Suatu hari, Ita ingin pergi ke pantai bersama Ivan, dia ingin melihat sunset bersama orang yang di cintainya. Walaupun awalnya dokter, orang tua Ita, dan Ivan tidak setuju, tapi demi kesembuhan Ita, akhirnya mereka menyetujui permintaan Ita itu. Dan pergilah mereka berdua ke pantai untuk melihat sunset.
Di pantai itu, Ivan menyanyikan lagu yang baru di buatnya untuk Ita. Lagu yang liriknya adalah ciptaan Ita, dulu dia pernah meminta Ivan untuk menciptakan lagu dari lirik yang dibuatnya. Dan kini lagu itu telah selesai dan Ivan menyanyikannya secara langsung untuk Ita. Keadaan yang sangat romantis itu membuat Ita bahagia. Berkali-kali dia tersenyum dan tertawa saat bersama Ivan. Kebahagiaan yang entah akan bertahan sampai kapan.
“Aku bahagia banget hari ini, karena bisa pergi sama kamu, tertawa dan melihat sunset bersama kamu. Dan yang lebih membahagiakan, aku bisa mendengar lagu itu secara langsung” ucap Ita sambil memandang langit.
“Aku juga senang bisa jalan sama kamu. Makanya kamu harus cepat sembuh, nanti kita bisa jalan-jalan lagi” sahut Ivan.
“Iya. Rasanya aku nggak ingin ini berakhir, aku ingin terus bersama kamu. Bahagia seperti ini.”
Ivan hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Ita. Lalu mencium kening Ita dengan lembut. Ita yang terkejut hanya bisa menatap Ivan, lalu tersenyum.
“Aku sayang kamu. Cepat sembuh, ya” ucap Ivan. Air mata mengalir dari mata Ita. Suasana mengharukan itu terlihat sangat membahagiakan. Setelah itu mereka kembali ke rumah sakit karena Ita masih harus di rawat.
* * *
Sebuah kabar mengejutkan membuat Ivan dan Gati datang ke rumah sakit lebih pagi dari biasanya. Keadaan Ita yang belakangan ini mulai membaik, tiba-tiba drop. Semua dokter dan perawat sibuk mengatasi keadaan itu. Sedangkan Ivan, Gati dan keluarga Ita hanya bisa menunggu dan berdoa dari luar ruang ICU. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya dokter membolehkan mereka untuk masuk ruangan itu dan melihat kondisi Ita yang sudah sadar. Wajah gadis itu semakin pucat dan tubuhnya dingin. Tapi dia masih tersenyum saat melihat keluarga dan dua orang yang berharga baginya itu masuk ke kamarnya.
“Kamu nggak apa-apa kan, sayang?” tanya orang tua Ita.
“Aku baik-baik aja kok, Bu” sahut Ita yang masih lemah.
“Ivan, aku mau mendengar kamu menyanyi. Tolong nyanyikan lagu itu sekarang. Aku mau dengar” ucap Ita dengan suara yang hampir seperti bisikan.
“Nanti saja, sekarang kamu istirahat dulu” sahut Ivan.
“Aku mau mendengarnya sekarang. Aku lelah, ingin istirahat. Aku ingin mendengar lagu itu untuk menemani tidurku.”
“Nyanyikan saja” ucap Ibu Ita.
Akhirnya Ivan menyanyikan lagu yang ingin di dengar Ita itu. Tangannya menggenggam tangan Ita yang dingin, Ita juga menggenggamnya dengan erat seperti tak mau lepas lagi. Perlahan matanya terpejam dan akirnya dia tertidur. Tapi bukan tidur biasa, karena monitor yang menunjukkan gerakan jantung Ita perlahan berhenti, hingga akhirnya sebuah garis muncul di monitor itu. Dan tak ada lagi pergerakan grafik detak jantung Ita. Ivan yang dari tadi menggenggam tangan Ita merasa tangan Ita perlahan melepas genggamannya. Mereka terus memanggil Ita, tapi dia tidak juga membuka matanya. Dokter juga sudah mengatakan kalau Ita telah pergi untuk selamanya. Air mata seperti tak bisa berhenti mengalir dari mata keluarga, Gati dan Ivan. Mereka tidak menyangka, Ita yang mereka kira akan segera sembuh ternyata meninggalkan mereka secepat itu.
Begitu juga Ivan, dia tidak mengira kalau lagu yang dia nyanyikan itu adalah lagu terakhir untuk Ita. Sebelum wajah Ita di tutupi kain putih, Ivan mencium kening gadis yang pernah di cintainya itu dengan lembut.
“Selamat jalan, sayang. Maafkan aku yang telah membuatmu seperti ini. Semoga kau tenang disana.”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

KETIKA BATU NISAN T’LAH TERUKIR NAMAMU



Lira, seorang mahasiswi tingkat 2 teburu-buru ia begitu mendapati Risal sahabat tercintanya itu masuk rumah sakit. Dipikirannya hanya ia ingin secepatnya sampai ke rumah sakit sampai-sampai ia tak mellihat ada cowok yang berjalan kearahnya. Ia menabrak cowok tersebut. Alhasil buku yang ia bawa terjatuh berserakan di koridor kampus.
“Ops maaf mas, aku terburu-buru jadi ga liat kalo ada mas.”
Setelah mengucapakan permintaan maaf, ia segera kerumah sakit dimana sahabatnya itu dirawat. Risal dan Lira memang bersahabat sejak mereka masih SMU, sampai teman-teman mereka mengira kalo mereka adalah sepasang kekasih.
“Kamu kenapa Kancil??“ tanya Risal pada Lira
“Hey!! kamu ni, gak bisa ya manggil namaku, Lira gitu.” Jawab Lira manyun
“Sayangnya ga bisa tuh.... “
“Kamu kok bisa kecelakaan sih??”
“Ya bisa aja. Soalnya aku terburu-buru ke kampus. Cuma mau mastiin aja kalo kamu gak bakalan nyuri timun.”
“Hey, aku tuh serius. Bisa serius dikit gak sih!!!”
“Ops, sorry.. Yaudah aku serius nih sekarang. Aku ditabrak ma mobil waktu mau mengantar ibu kerumah nenek. Ibuku sekarang koma.” Jelas Risal sedih.
“Aku ikut sedih ya Ical, aku khawatir tau. Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu, Kucing. Aku baru saja datang dari kamar ibu kamu. Dia lagi istirahat”
“Ya udah,  jangan manyun lagi. Jelek tau. Mang ada ya kancil manyun? Ada sih, tapi jelek banget.” Gurau Risal, membuat Lira tersenyum
“Kamu tuh gak bisa ya serius. Udah tau sakit, masih aja buat aku tertawa. Seharusnya kamu yang aku hibur. Tapi Makasih ya Ical, kamu selalu ada buat aku baik saat aku senang maupun aku sedih. Aku juga baru tau kalo kucing itu bisa berteman dengan kancil.”
Mata bening Lira jelas terpancar kekhawatiran dan kesedihan, sedari tadi dia hanya termenung. Entah apa yanng dia pikirkan. Hanya dia yang tau. Sedangkan Risal hanya bisa memandanngnya tanpa berani berkata apapun pada sahabatnya itu.
Setiap hari Lira datang ke rumah sakit untuk merawat Risal, sesekali dia datang bersama teman-temannya. Seminggu kemudian Risal sudah boleh pulang dan mulai kuliah kembali. Hari itu Lira berangkat bersama Risal, tiba-tiba Ragil menghampiri.
“Kalian ini gak bisa dipisahin ya, kemana-mana selalu berdua. Kamu gak ijinin aku bareng ma Lira, Ris? Aku kan suka sama Lira.” Gurau Ragil.
“Gak boleh!! Lira harus tetap sama aku. Kalau ada yang suka dan mau pacaran sama dia harus seijinku dulu.”
“Mang kamu siapaku? Enak aja harus ijin sama kamu. Wah, jangan-jangan semua cowok di kampus ini ngiranya aku pacaran sama kamu lagi. Pantesan aja gak ada yang berani dekatin aku.”
“Hahahaha... Iya kali. Makanya kita pacaran aja sekarang.” Risal tertawa terbahak-bahak
“Siapa yang ijnin kamu untuk tertawa?. Heh!!!”
“Ops.... kancilku marah. Sorry.”
“Udahlah ayo masuk. Udah jam berapa nih???”
Karena kedekatan mereka sehingga Teman-teman mereka mengira mereka pacaran. Hingga suatu hari terdengar kabar bahwa ibu Risal meninggal setelah beberapa bulan mengalami koma akibat kecelakaan beberapa waktu lalu, dan Risal juga menjauhi Lira. Teman-teman mereka mengira mereka telah putus.
“Lir, beneran hubungan kalian gak bisa diperbaiki lagi? Sampai kapan kalian akan seperti ini?”
“Aku sama Ical gak pacaran kok,Cha. Aku gak tau akan sampai kapan?”
Sementara itu Risal dan Ragil sedang makan dikantin. Ragil menoba untuk mempersatukan Lira dan Ragil kembali.
“Ris, kamu ada masalah apa ma Lira?”
“Gak ada”
“Tapi kok kalian jadi jauh begini?”
“Udah ya gak usah bahas dia lagi. Males aku mendengar namanya. Terserah dia mau ngapain aja, bukan urusanku lagi. Jangan merusak mood ku dengan ngomongin dia.” Lira masuk dan mendengar semua pembicaraan mereka.
“Oke kalo aku memang perusak mood mu, aku ga akan muncul depanmu lagi! PUAS ?!”
“Ya udah, sana pergi! Ngapain lagi kamu disini? Dan juga aku gak mau lihat kamu tersenyum lagi. Jadi jangan pernah tersenyum di depanku”
Lira berlari menjauh dari tempat Risal berada. Ia menangis, hatinya hancur melihat sahabatnya tega berbuat seperti itu terhadapnya disaat dia benar-benar butuh teman karena ayahnya dipenjara karena telah menabrak seseorang dan membuatnya meninggal setelah beberapa bulan koma. Ia bingung, entah hal apa yang telah membuat sahabatnya itu berubah menjadi Risal yanng dingin dan tega melukai hatinya.
“Kamu tega Ris membuat seorang gadis seperti Lira menangis seperti itu. Kamu lupa siapa yang merawat dan mengurusmu saat dirumah sakit? Lira orang yang telah merawatmu sampai kamu sembuh. Ini balasan yang kamu berikan padanya. Tega sekali kau pada Lira. Apa salah Lira padamu? Jika kejahatan di balas kejahatan, maka itu adalah dendam. Jika kebaikan dibalas kebaikan itu adalah perkara biasa. Jika kebaikan dibalas kejahatan, itu adalah zalim. Kamu udah berbuat zallim pada shabatmu sendiri.” Ucap Ragil
“Kamu bicara seperti itu karena kamu gak tau masalahnya.”
“Gimana kita mau tau yang sebenarnya, kalau kamu gak mau ngasih tau masalah yang sebenarnya.?” Jawab Icha
“Oke aku kasih tau. Dia merawat aku sampai sembuh karena yang nabrak aku adalah ayahnya dan itu membuat ibuku meninggal. Jadi dia merasa bersalah aja.” Risal pergi meninggalkan Ragil dan Icha.
Beberapa bulan telah berlalu, hubungan Lira dan Risal masih tidak ada perubahan. Lira juga berubah, tak ada lagi Lira yanng ceria yang ada hanya Lira yang pendiam. Suatu hari di kelas Lira hanya terdiam dengan wajah yang pucat. Tiba-tiba Januar datang menghampiri Lira. Sedangkan Risal hanya melihat dari jauh, Januar mencoba mennghibur Lira yang sedang sedih. Saat Risal masuk ke kelas, Lira beranjak dari tempat duduknya.
“Mau kemana Lir??
“Tolong ijinin aku ke dosen. Aku gak enak badan.”
“Aku anterin Lir.” Kata Risal tanpa sadar
“Aku gak mau merusak mood mu.” Ucap Lira seraya pergi
“Siapa juga yang mau nganterin kamu.”
Selama beberapa hari Lira tidak masuk kuliah. Teman-temannya menenguk Lira harus pulang membawa kekecewaan karena Lira berada di rumah neneknya di Solo. Kata Bundanya, Lira ingin refreshing. Keesokan harinya Lira pulang kerumah, dia menceritakan permasalahan yang dia hadapi pada Bundanya.
“Lira gak tau bunda, apa salah Lira? Lira bener-bener bingung dengan sikap Ical. Lira gak mau kehilangan Ical bunda. Lira sayang Ical, Bunda.”
“Lira, Bunda tau kenapa Ical bersikap seperti itu. Kamu inget orang yang ditabrak ayahmu?”
“Apa hubungannya ma ayah Bunda?”
“Orang yang ayahmu tabrak adalah Risal dan Ibunya. Bunda rasa gara-gara hal itu Risal marah ma kamu. Sabar ya Sayang....” Lira kaget sampai tak terasa air matannya mengalir.
“Kenapa? Kenapa Risal gak mau bilang yang sebenarnya? Dan kenapa Bunda baru ngasih tau aku hal ini?”
“Maafin bunda sayang, bunda Cuma gak mau kamu sedih aja.”
“Temanmu kemarin datang menenguk kamu.”
“Ada Ical bunda?” tanya Lira penuh harap, bunda hanya menggeleng. Kekecewaan kembali menghampiri hatinya.
“Lir, kamu kok pucet banget ayo nanti kedokter.”
“Gak usah bunda, Cuma pusing dikit aja. Istirahat nanti sudah baikan kok.”
Keesokan harinya Lira masuk kuliah tapi denngan wajah masih pucat. Begitu masuk kelas, orang yang pertama kali dia lihat adalah Risal, sehingga dia tak menghiraukan teman-temannya bicara padanya.
“Liraa, aku kangeeeennn.” ucap Icha senang
Lira hanya memendangi wajah Risal, tak ada senyuman hangat itu lagi dari bibirnya. Lira benar-benar merindukan senyuman yang selalu membuatnya tersenyum. Dia tak sadar sampai menabrak Imel yanng dari dulu tak suka padanya, hingga Lira terjatuh.
“Kalau jalan itu pake mata dong.”, bentak Melda
“Maaf aku gak liat”, ucap Lira
“Makanya hati-hati kalo jalan!!!” bentak Imel
“Ya. Maaf ya.”
“Dasar, baru masuk aja udah bikin ulah. Aku lebih senang kalo kamu gak ada di kelas.”
“Udah lah, Lira kan udah minta maaf. Lagian apa salah ya sih maafin Lira? Toh yang jatuh dia bukan kamu.” Ucap Icha
“Kalian sama aja. Menyebalkan!.” Ucap Melda dengan nada kasar.
“Udah! Pagi-pagi udah berantem. Kamu udah lah Mel. Bener kata Icha, apa salahnya kamu maafin Lira, toh yng jatuh itu Lira bukan kamu.” Risal angkat bicara
“Ris, kamu belain dia?? Anak dari orang yang telah membuat ibu kamu meninggal?? Kamu belain dia karena dia lemah!!! Ngapain sih kamu belain dia? Ga ada gunanya!!!”
“Makasih, kalau cuma belas kasihan. Aku ga butuh belas kasihan dari kamu. Simpan saja.”
“Kamu angkuh Lir.”
“Apa bedanya ma kamu???”
Risal hanya terdiam
“Tau males aku. Aku gak mau buat mood mu ilang.”
“Ya udah sana pergi yang jauh.”
“Oke. Jangan menyesal jika aku pergi untuk selamanya. Aku ga mau buat kamu sedih makanya aku akan pergi jauh dari kalian semua.” Lira pergi
“PUAS?!” bentak Icha seraya pergi menyusul Lira ke kamar mandi
“Kenapa aku bisa suka ma cowok seperti dia? Udah jelas-jelas dia nyakitin aku. Gak boleh Lir. Lupakan dia.”
“Mencintai itu tidak salah Lir. Aku ngerti kalau kamu suka sama Risal, soalnya kalian udah dekat sejak dulu. Jadi wajar kalau cinta tumbuh diantara kalian.”
“Tapi aku yang gak bisa. Aku gak punya waktu buat mencintai dia. Kalau aku ada kesempatan kedua aku gak akan mencintai dia.” Mengalir airmata Lira.
“Mang kamu mau kemana?” tanya Icha melihat Lira bergegas pergi.
“Aku mau pergi jauh. Maafin aku ya atas semua salahku.” Ucap Lira menghapus airmatanya.
Keesokan harinya Lira menghilang tanpa kabar. Beberapa hari kemudian saat pulang kuliah Lira menunggu Risal.
“Ical, maafin aku dan keluargaku ya.” Sambil mengulurkan tangan
“Lir, tangan mu? Kamu sakit? Pucat banget.” Ucap Risal begitu menyentuh tangan Lira yang dingin.
“Gak apa-apa kok. (sambil melepas tangan Risal). Aku harap kamu gak akan pergi jauh seperti tangan mu melepas tanganku.”
“Kamu kenapa?”
“Aku tau kamu pasti marah ma keluargaku. Aku juga baru tau kalau ayahku lah yang membuat ibu kamu meninggal. Kalau hanya dengan kematianku kamu bisa maafin keluargaku, aku ikhlas. Aku hanya ingin minta maaf sama kamu mumpung masih ada waktu.”
“Kamu ngomong apa sih? Kenapa kamu ngomong gitu?”
“Aku Cuma gak mau kamu sedih. Aku tau saat kamu liat aku, kamu akan inget ma kejadian yang telah membuat ibu kamu meninggal. Karena aku adalah anak dari orang yang telah membunuh ibu kamu.”
“Kelinci.”
“Sejak lama aku kangen kamu manggil aku dengan kelinci. Akhirnya aku masih sempat mendengar kamu manggil aku seperti itu lagi. Tolong panggil aku Kelinci lagi.”
“Kelinci, kamu kenapa? Sejujurnya aku bingung. Disisi lain aku sayang sama kamu, tapi di lain sisi aku gak bisa ngelupain kematian ibuku. Maafin aku juga ya kelinci. ”
“Kamu masih sayang aku padahal ayahku udah membuat ibu kamu.” ucap Lira tertahan
“Aku cinta kamu, Lira. Maafin aku udah nyakitin hati kamu. Aku berbuat seperti itu untuk membuat kamu jauh dari aku karna aku takut gak bisa maafin ayah kamu. Tapi, sekarang aku udah bisa maafin ayah kamu. Aku sadar kalau kematian ibuku sudah takdirnya. Maafin aku ya Lir.”
“Sebenarnya aku juga cinta sama kamu, Ical. Tapi aku gak bsa mencintai kamu lagi. Aku udah gak punya waktu lagi.”
“Tolong beri aku kesempatan kedua. Aku akan buktiin kalo aku ga akan nyakitin hati kamu lagi”
“Kalau aku juga di beri kesempatan kedua aku ga akan mencintai kamu sedalam ini. Karena cintamu menyakitkanku.”
“Kamu nyesel cinta sama aku?”
“Kalau boleh jujur, iya. Aku menyesal mencintai kamu, mencintai kamu begitu dalamnya. Maaf Ical, maaf karrena aku mencintaimu. Boleh aku minta permintaan terakhir sama kamu?”
“Apa itu?”
“Aku ingin ke pantai ma kamu dan bermain kembang api.”
“Kapan kamu pengen perginya?”
“Hari ini juga kalo bisa?”
“Tapi kamu ....”
“Terakhir kali” Potong Lira
Tepat jam 6 sore mereka tiba di pantai. Mereka menyusuri pantai bersama-sama, bersenang-senang dan bermain kembang api. Hari itu hubungan mereka membaik, bahkan lebih indah dari sebelumnya.
“Aku bahagia sekali hari ini. Makasih kucingku telah kembali.”
“Kelinciku juga telah kembali” Dalam hitungan detik Risal mencium Lira. Jelas saja Lira kaget dengan reaksi Risal. Dia hanya memnyembunyikan pipinya yang merona dibalik wajahnya pucat.
“Aku sakit, Ical. Aku gak mau buat kamu sedih dengan kepergianku. Terimakasih telah membuat aku bahagia di akhir hidupku. Aku cinta kamu, Icalku, Kucingku.” Batin Lira
“Terimakasih Ical telah membuat aku bahagia. Aku cinta kamu, Icalku, Kucingku.”
“Iya Lira, Kelinciku. Aku sangat sangat sangat cinta ma kamu”
Keesokan harinya terdengar kabar yang sangat mengejutkan, Lira meninggal karena penyakitnya. Orang yang paling sedih adalah Risal. Ia menyesal telah menyakiti hati wanita yang sangat dicintainya. Ia juga menyesal mengapa baru mengetahui penyakit Lira setelah begitu lama mereka berteman.
“Lira..... beri aku kesempatan kedua. Kelinci. Aku tak akan menyakiti hatimu lagi. Maafkan aku Kelinci.” Ucap Risal di batu nisan Lira. Tapi semua itu tak ada gunanya. Lira telah pergi untuk selamanya membawa cintanya pada Risal, sahabat sekaligus kekasihnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Popular Posts

Copyright by Cindi Astrid Irdam. Diberdayakan oleh Blogger.